Kisah Pemuda yang Bernama ‘Uzair Bag.2 (Selesai)

Setelah ‘Uzair melihat makanan dan keledainya yang sudah hancur itu, maka ‘Uzair pun berkata, “Sekarang tahulah saya bahwa Allah itu berkuasa di atas segala sesuatu.” Tiba-tiba keledai yang sudah hancur berderai itu dilihatnya mulai dikumpulkan daging dan tulangnya. Dan akhirnya menjadi seperti sediakala yang hidup kembali bergerak-gerak dan berdiri sebagaimana sebelum mati. Maka ‘Uzair pun berkata, “Sekarang tahulah saya bahwa Allah berkuasa di atas segala-galanya.” Lalu dia pun terus mengambil keledainya dulu dan terus menunggangi keledainya pulang ke rumahnya dahulu dengan mencari-cari jalan yang sulit untuk dikenali. Ia melihat semuanya telah berubah. Dia coba mengingat apa yang pernah dilihatnya seratus tahun dulu. Setelah beberapa lama, akhirnya dia pun sampai ke rumahnya. Akhirnya dia sampai di situ, dia mendapati rumahnya sudah buruk, dinding rumahnya telah runtuh. Kemudian dia memandang keadaan sekeliling rumahnya, dia melihat seorang perempuan tua, lantas dia pun bertanya, “Inikah rumah tuan ‘Uzair?”

“Ya,” jawab perempuan itu. “Inilah rumah ‘Uzair dahulu, tetapi ‘Uzair telah lama pergi dan tidak didengar lagi berita tentangnya lagi sehingga semua orang pun lupa padanya dan saya sendiri tidak pernah menyebut namanya selain kali ini saja.” Kata perempuan itu sambil menitiskan airmata.
‘Sayalah ‘Uzair,” jawab ‘Uzair. “Saya telah dimatikan oleh Tuhan seratus tahun dahulu dan sekarang saya sudah dihidupkan oleh Allah kembali.”
Perempuan tua itu terkejut seakan-akan tidak percaya, lalu dia pun berkata, “‘Uzair itu adalah seorang yang paling soleh, doanya selalu dimakbulkan oleh Tuhan dan telah banyak jasanya di dalam menyembuhkan orang yang sakit tenat.” Sambungya lagi, “Saya ini adalah hambanya sendiri, badan saya telah tua dan lemah, mata saya telah pun buta karena selalu menangis terkenangkan ‘Uzair. Kalaulah tuan ini ‘Uzair maka cobalah tuan doakan kepada Tuhan supaya mata saya terang kembali dan dapat melihat tuan.”

“Uzair pun mengangkat kedua belah tangannya ke langit lalu berdoa ke hadirat Tuhan. Tiba-tiba mata orang tua itupun terbuka dan dapat melihat dengan lebih terang lagi. Tubuhnya yang tua dan lemah itu kembali kuat seakan-akan kembali muda. Setelah merenung wajah ‘Uzair dia pun berkata, “Benar, tuanlah ‘Uzair. Saya masih ingat.” Hambanya itu terus mencium tangan ‘Uzair lalu keduanya pergi mendatangi keramaian, bangsa Israil. ‘Uzair memperkenalkan dirinya bahwa dialah ‘Uzair yang pernah hidup di kampung itu lebih seratus tahun yang lalu.

Berita itu bukan saja mengejutkan bangsa Israil, tetapi ada juga meragukan dan ada yang tidak percaya kepadanya. Walau bagaimanapun berita itu menarik perhatian semua orang yang hidup ketika itu. Karena itu mereka ingin menguji kebenaran ‘Uzair. Kemudian datanglah anak kandungnya sendiri seraya bertanya, “Saya masih ingat bahwa bapak saya mempunyai tanda di punggungnya. Cobalah periksa tanda itu. Kalau ada benarlah dia ‘Uzair.”

Tanda itu memang ada pada ‘Uzair, lalu percayalah sebagian dari mereka. Akan tetapi sebagian lagi menginginkan bukti yang lebih nyata, maka mereka berkata kepada ‘Uzair, “Bahwa sejak penyerbuan Nebukadnezar ke bangsa Israil dan setelah tentara tersebut membakar kitab suci Taurat, maka tiada seorang pun bani Israil yang hafal isi Taurat kecuali ‘Uzair saja. Kalau benarlah tuan Uzair, coba tuan sebutkan isi Taurat yang benar.”

‘Uzair pun membaca isi Taurat itu satu persatu dengan fasih dan lancar serta tidak salah walaupun sedikit. Mendengarkan itu barulah mereka percaya bahwa sungguh benar itulah ‘Uzair. Ketika itu, semua bangsa Israil punpercaya bahwa dialah ‘Uzair yang telah mati dan dihidupkan kembali oleh Tuhan. Banyak di antara mereka yang bersalam dan mencium tangan ‘Uzair serta meminta nasihat dan panduan kepadanya. Tetapi sebagian dari kaum Yahudi yang bodoh menganggap ‘Uzair sebagai anak Tuhan pula. Maha Suci Allah tidak mempunyai anak seperti ‘Uzair maupun Isa karena semua makhluk adalah kepunyaan-Nya. Janganlah kita ragu akan kekuasaan Allah, maka hendaklah dia berfikir siapakah yang menciptakan dirinya itu. Karena mustahil sesuatu benda dapat terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Kalau masih ada orang yang ragu-ragu akan kekuasaan Allah, obatnya hanya satu, yaitu hendaklah membaca dan memahami al-Qur’an, ragu akan kekuasaan Allah itu hanya datangnya dari syaitan.Allah S.W.T telah meletakkan komputer dalam kepala kita untuk berfikir, oleh itu gunakanlah akal kita untuk berfikir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: