Archive for the ‘Agama Islam’ Category

Bulan Ramadhan

Puasa Ramadhan

Pengertian: Puasa ramadhan adalah puasa yang wajib dikerjakan oleh setiap mukallaf satu bulan penuh pada bulan ramadhan dengan beberapa syarat dan hukum yang telah ditentukan.

Hukum puasa ramadhan adalah fardhu `ain. 

Perintah wajib puasa turun pada bulan Sya’ban Tahun 2 Hijriyah.

Kelebihan Ramadan

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a; Rasulullah s.a.w bersabda: “Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Syurga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu”

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a; Rasulullah s.a.w. bersabda: “…Dan barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan keridhaan Allah, akan diampunkan segala dosa yang dilakukannya sebelum itu”

Diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri r.a; Rasulullah s.a.w bersabda: “Setiap hamba yang berpuasa di jalan Allah, Allah akan menjauhkannya dari api Neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun”

Ketentuan awal dan akhir ramadhan

Cara menentukan awal dan akhir ramadhan adalah sebagai berikut:

1) Ru`yatul hilal

Yaitu melihat bulan sabit (pada tanggal 1 qomariyah) dengan mata kepala telanjang (tanpa menggunakan alat)

Jika sudah kelihatan bulan sabit maka paginya segera berpuasa.

Firman Allah SWT (potongan surat Al-Baqarah:185)

Artinya: Barangsiapa di antara kamu sekalian yang menyaksikan awal ramadhan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu (QS. Al-Baqarah:185)

Rasulullah s.a.w. bersabda

Artinya: Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. Bersabda: Berpuasalah kamu sekalian karena kamu melihat bulan dan berbukalah/berlebaranlah kamu sekalian karena kamu melihat bulan. Jika kamu sekalian tidak melihat bulan, maka sempurnakanlah bilangan hari dari bulan sya`ban tersebut menjadi tiga puluh hari. (HR. Bukhari dan Muslim)

2) Istikmal

Yaitu dengan menyempurnakan bilangan bulan menjadi tiga puluh hari.

3) Hisab

Yaitu dengan jalan menggunakan perhitungan ilmu falaq atau ilmu astronomi.

Firman Allah SWT

Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui. (QS. Yunus:5)

Hal-hal yang membolehkan tidak puasa di bulan ramadhan & cara mengganti puasa yang ditinggalkan

Hal-hal yang membolehkan tidak berpuasa:

1) Sakit

Yaitu sakit yang apabila digunakan untuk berpuasa sakitnya bertambah parah atau berbahaya.

Firman Allah SWT (potongan surat Al-Baqarah:185)

Artinya: Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al-Baqarah:185)

2) Musafir

Yaitu orang yang bepergian dengan niat yang baik, yang baik dengan jarak ± 80,64 km sebagaimana ayat tersebut di atas.

3) Orang yang sudah lanjut usia

Yaitu orang usia tua yang sudah lemah sehingga tidak mampu lagi untuk berpuasa atau pikun.

4) Hamil atau menyusui

Kedua perempuan ini tidak berpuasa karena khawatir berbahaya terhadap anaknya atau dirinya & anaknya.

5) Haid dan nifas

Perempuan yang sedang haid dan nifas dilarang berpuasa.

Cara mengganti puasa yang ditinggalkan:

1) Wajib membayar qodlo saja pada hari lain sejumlah hari yang ditinggalkan yaitu sebab:

a) Sakit

b) Musyrik

c) Orang hamil dan menyusui jika takut dirinya saja atau diri dan anaknya dapat berbahaya karenanya

d) Haid atau nifas

2) Wajib membayar fidya saja

memberi makanan kepada orang miskin ± 1 mud (± ¾ liter) makanan pokok setiap hari yaitu:

a) Orang yang sakit dan tidak ada harapan lagi untuk sembuh.

b) Orang yang sudah tua yang tidak mampu lagi berpuasa.

3) Wajib mengqodlo puasa dan membayar fidya

Yaitu orang hamil dan menyusui yang khawatir berbahaya terhadap anaknya saja.

4) Wajib mengqodlo puasa, membayar fidya dan masih berdosa

Yaitu orang yang sengaja meninggalkan puasa tanpa udzur syar`i

Kisah Tentang Balasan Melalaikan Sholat

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis.
Ketika Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, “Wahai pemuda kenapa kamu menangis?”
Maka berkatalah pemuda itu, “Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya.”
Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikuti pemuda itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.a. mendapati ayah pemuda itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, “Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah pemuda ini bertukar menjadi babi hutan yang hitam.”

Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah pemuda itu dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk manusia semula. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangi mayat tersebut.
Ketika mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, “Wahai pemuda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?”

Berkatalah pemuda itu, “Sebenarnya ayahku ini tidak mau mengerjakan sholat.” Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, “Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sholat. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam.”


Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Ketika mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka coba membunuh ular itu.

Ketika mereka coba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, “Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, mengapa kalian semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyiksanya sehingga sampai hari kiamat.”
Lalu para sahabat bertanya, “Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?”
Berkata ular, “Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :”

1.    Apabila dia mendengar adzan, dia tidak mau datang untuk sembahyang berjamaah.
2.    Dia tidak mau mengeluarkan zakat hartanya.
3.    Dia tidak mau mendengar nasihat para ulama.

Maka inilah balasannya.

Kisah Anak Kecil yang Takut Api Neraka

Dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai. Ketika lelaki tersebut sedang berjalan-jalan, tiba-tiba dia melihat seorang anak kecil sedang mengambil wudhu‘ sambil menangis.Saat orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, “Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?”
Maka berkata anak kecil itu, “Wahai kakek, saya telah membaca ayat al-Qur’an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum” yang bermaksud, ” Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu.” Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Berkatalah orang tua itu, “Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka.”
Berkatalah anak kecil itu, “Wahai kakek, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama-tama yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar terlebih dahulu sebelum orang dewasa.”

Berkata orang tua itu, sambil menangis, “Anak kecil ini sungguh lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?”

Pacaran Secara Islami ?

Cinta memang sebuah anugerah, cinta hadir untuk memaniskan hidup di dunia apalagi rasa cinta kepada lawan jenis, sang pujaan hati atau sang kekasih hati menjadikan cinta itu begitu terasa manis bahkan orang bilang bila orang sudah cinta maka empedu pun terasa seperti gula. Begitulah cinta, sungguh hal yang telah banyak menjerumuskan para remaja islam ke dalam kenistaan manakala tidak berada dalam jalur rel yang benar. Mereka sudah tidak tahu lagi mana cinta yang dibolehkan dan mana yang dilarang.

berduaan Banyak anak-anak muda yang mengatakan “Masa sih pacaran itu haram? Kalo niat kita untuk saling berbagi, dan menggali motivasi masa ga boleh? Kan itu positif..” Ada juga yang mengatakan “Pacaran itu tergantung orang yang melakukannya, kalau untuk memotivasi belajar dan meningkatkan prestasi kan ga masalah, toh dampaknya juga positif..”. Dan masih banyak lagi perkataan-perkataan anak muda jaman sekarang yang pada intinya “pro” pada pacaran itu sendiri. Tetapi apapun pemikiran manusia pastilah lebih banyak khilafnya daripada kebenarannya. Oleh karena itu hendaknya kita menyelesaikan masalah ini dengan mengambil dasar yang jelas dan benar yaitu Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW. Dasar yang pertama ialah Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 30-31, terjemahnya ialah sebagai berikut:

 

30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Dasar yang kedua ialah Al Hadits, bunyinya seperti ini “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”.

Dari dua dasar di atas, yang satu dari Al-Qur’an dan yang satu dari Al-Hadits, sudah cukuplah untuk mengetahui bagaimana pandangan Islam tentang pacaran itu. Bahwa sebagai seorang lelaki hendaklah mereka menundukkan pandangan terhadap hal-hal yang haram untuk dipandang dan dapat mengantarkannya kepada dosa dan maksiat, dan sebagai perempuan hendaklah mereka menjaga aurat dan memelihara kehormatannya. Seberat apapun itu jika kita mengaku seorang muslim maka haruslah kita jalani dan amalkan. Sesuatu yang dikerjakan dengan usaha yang berat, dengan tirakat yang berat kelak pasti akan membuahkan hasil yang manis rasanya. Jika tidak didapat di dunia, insyaAllah pasti didapat di surga.

Memang terasa berat bagi kaum lelaki untuk menahan pandangan, untuk menahan hawa nafsu syahwat, dan untuk menahan perasaan cinta kepada seorang perempuan ketika ia menginjak usia remaja. Dan semua itu merupakan ujian yang harus dihadapi oleh para pemuda Islam. Dan anda termasuk yang lulus ujian apa tidak? Hanya Allah dan anda sendiri yang tahu. Begitu juga dengan remaja perempuan, akan terasa berat ketika dirinya harus menahan perasaan cintanya kepada seorang lelaki, dan ketika dirinya harus menjaga pandangan, harga diri, dan juga kehormatannya. Satu hal yang banyak perempuan tidak mengetahui ialah bahwa suara itu adalah aurat bagi perempuan. Karena dengan suara seorang perempuan boleh jadi laki-laki yang sedang lemah imannya menjadi tertarik dan tergoda karenanya. Dan hal tersebut bisa menimbulkan syahwat cinta dalam hatinya. Dan itu berbahaya apabila menjadi gugur iman lelaki tersebut oleh perempuan tadi. Kalau sudah begitu hal yang mulanya tidak diinginkan terjadi menjadi hal yang diinginkan dan benar-benar terjadi. Akhirnya penyesalanlah yang didapatkan. Nasi sudah menjadi bubur, sedangkan setannya sudah keburu kabur. Ada dua ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan hal ini, terjemahnya ialah:

32. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk[1213] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[1214] dan ucapkanlah perkataan yang baik, (QS. Al-Ahzab ayat 32)

[1213]. Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.

[1214]. Yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit ialah: orang yang mempunyai niat berbuat jahat kepada wanita, seperti melakukan zina.

32. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Israa’ ayat 32)

 

 

 

Lalu bagaimana pacaran yang Islami itu??? Pacaran yang Islami itu:

1. Tidak saling memegang, contoh kecilnya tidak saling berpegang tangan.

2. Tidak berduaan di tempat yang sepi. Jadi di tempat yang rame boleh dong? Ya bukan begitu mengartikannya, yang benar itu kalo ada teman kita yang berduaan di tempat yang rame ya bilang aja ke mereka,”Di tempat yang rame aja kayak gini, apalagi di tempat yang sepi? Jadi apa nantinya… wahahaha”

3. Saling nasehat menasehati. Contohnya saling mengingatkan ketika waktu shalat tiba hendaknya segera shalat. Tidak cuman mengingatkan saja tetapi dia sendiri juga harus melakukannya.

4. Saling menjaga pertemuan. Maksudnya bukan menjaga pertemuan biar tidak diketahui orang lain ketika berduaan, akan tetapi ialah menjaga diri dari berlama-lamaan bertatap muka dengannya, misalnya kalau ingin berkomunikasi lewat sms aja, atau lewat fb, twiter, facelim yang penting tidak berlebihan.

5. Dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Ini adalah yang terpenting dan menjadi alasan yang kuat mengapa pacaran itu harus yang islami.

Itu diantaranya sedikit penjelasan mengenai boleh atau tidaknya berpacaran menurut pandangan Islam. Tetapi alangkah baiknya sebagai hamba Allah yang beriman dan ingin masuk ke dalam golongan orang-orang yang saleh, hendaknya kita sebagai remaja mampu menahan diri untuk tidak berpacaran sampai datang waktu menikah nantinya. Dan semoga kita semua kelak dijumpakan oleh Allah dengan sahabat sejati kita, teman sejati kita yang akan menemani hidup kita hingga Izrail menjemput kita semua. Satu pesan yang terakhir, “Tidak sempurna iman seorang muslim manakala dia meninggal dalam keadaan masih membujang…….”

Sumber : (rohisalkautsar.wordpress.com)

Kisah Berpisahnya Roh Dari Jasad

Dalam sebuah hadist, Aisyah r.a katanya, “Aku sedang duduk bersila di dalam rumah. Tiba-tiba Rasulullah S.A.W datang dan masuk sambil memberi salam kepadaku. Aku segera bangun karena menghormati dan memuliakannya sebagaimana kebiasaanku di waktu baginda masuk ke dalam rumah. Nabi S.A.W bersabda, “Duduklah di tempat duduk, tidak usahlah berdiri, wahai Ummul Mukminin.” Maka Rasulullah S.A.W duduk sambil meletakkan kepalanya di pangkuanku, lalu baginda berbaring dan tertidur.

Maka aku hilangkan uban pada janggutnya, dan aku dapat 19 rambut yang sudah putih. Maka terfikirlah dalam hatiku dan aku berkata, “Sesungguhnya baginda akan meninggalkan dunia ini sebelum aku sehingga tetaplah satu umat yang ditinggalkan olehnya nabinya.” Maka aku menangis sehingga mengalir air mataku jatuh menitis pada wajah baginda.
Baginda terbangun dari tidurnya seraya bertanya, “Apakah sebabnya sehingga engkau menangis wahai Ummul Mukminin?” Masa aku ceritakan kisah tadi kepadanya, lalu Rasulullah S.A.W bertanya, “Keadaan bagaimanakah yang hebat bagi mayat?” Kataku, “Tunjukkan wahai Rasulullah!”

Rasulullah S.A.W berkata, “Engkaulah katakan!,” Jawab Aisyah r.a : “Tidak ada keadaan lebih hebat bagi mayat ketika keluarnya mayat dari rumahnya di mana anak-anaknya sama-sama bersedih hati di belakangnya. Mereka sama-sama berkata, “Aduhai ayah, aduhai ibu! Ayahnya pula mengatakan: “Aduhai anak!”
Rasulullah S.A.W bertanya lagi: “Itu juga termasuk hebat. Maka, manakah lagi yang lebih hebat daripada itu?” Jawab Aisyah r.a : “Tidak ada hal yang lebih hebat daripada mayat ketika ia diletakkan ke dalam liang lahat dan ditimbunkan tanah ke atasnya. Kaum kerabat semuanya kembali. Begitu pula dengan anak-anak dan para kekasihnya semuanya kembali, mereka menyerahkan kepada Allah berserta dengan segala amal perbuatannya.” Rasulullah S.A.W bertanya lagi, “Adakah lagi yang lebih hebat daripada itu?” Jawab Aisyah, “Hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih tahu.”

Maka bersabda Rasulullah S.A.W : “Wahai Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebat keadaan mayat ialah ketika orang yang memandikan masuk ke rumahnya untuk memandikannya. Maka keluarlah cincin di masa remaja dari jari-jarinya dan ia melepaskan pakaian pengantin dari badannya. Bagi para pemimpin dan fuqaha, sama melepaskan sorban dari kepalanya untuk dimandikan.
Di kala itu rohnya memanggil, ketika ia melihat mayat dalam keadaan telanjang dengan suara yang seluruh makhluk mendengar kecuali jin dan manusia yang tidak mendengar. Maka berkata roh, “Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu karena Allah, lepaskanlah pakaianku dengan perlahan-lahan sebab di saat ini aku beristirahat dari kesakitan sakaratul maut.” Dan apabila air disiram maka akan berkata mayat, “Wahai orang yang memandikan akan roh Allah, janganlah engkau menyiram air dalam keadaan yang panas dan janganlah pula dalam keadaan sejuk karena tubuhku terbakar dari sebab lepasnya roh,” Dan jika mereka memandikan, maka berkata roh: “Demi Allah, wahai orang yang memandikan, janganlah engkau gosok tubuhku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya roh.”

Apabila telah selesai dari dimandikan dan diletakkan pada kafan serta tempat kedua telapaknya sudah diikat, maka mayat memanggil, “Wahai orang yang memandikanku, janganlah engkau kuat-kuatkan dalam mengafani kepalaku sehingga aku dapat melihat wajah anak-anakku dan kaum keluargaku sebab ini adalah penglihatan terakhirku pada mereka. Adapun pada hari ini aku dipisahkan dari mereka dan aku tidak akan dapat berjumpa lagi sehingga hari kiamat.”
Apabila mayat dikeluarkan dari rumah, maka mayat akan menyeru, “Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda, maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, janganlah menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari ini aku akan dikeluarkan dari rumahku dan meninggalkan segala yang kucintai dan aku tidak lagi akan kembali untuk selama-lamanya.”

Apabila mayat diletakkan ke dalam keranda, maka berkata lagi mayat, “Demi Allah, wahai jemaahku, janganlah kamu percepatkan aku sehingga aku mendengar suara ahliku, anak-anakku dan kaum keluargaku. Sesungguhnya hari ini ialah hari perpisahanku dengan mereka sehingga hari kiamat.”

Kelebihan Membaca Ayat Kursi

Dari Anas bin Malik r.a. berkata, “Rasulullah S.A.W bersabda : Apabila seseorang dari umatku membaca ayat Kursi 12 kali, kemudian dia berwudhu dan mengerjakan sholat shubuh, niscaya Allah akan menjaganya dari kejahatan syaitan dan derajatnya sama dengan orang yang membaca seluruh al-Qur’an sebanyak tiga kali, dan pada hari kiamat ia akan diberi mahkota dari cahaya yang menyinari semua penghuni dunia.”
Berkata Anas bin Malik, “Ya Rasulullah, apakah akan dibaca setiap hari?”

Sabda Rasulullah S.A.W, ” Tidak, cukuplah membacanya pada setiap hari Jum’at.”
Umat-umat dahulu hanya sedikit saja yang mempercayai rasul-rasul mereka dan itu pun apabila mereka melihat mukjizat secara langsung. Kita sebagai umat Islam tidak boleh ragu-ragu tentang apa yang diterangkan oleh Allah dan Rasul. Janganlah kita ragu-ragu tentang al-Qur’an, hadist dan sunnah Rasul kita. Janganlah kita menjadi seperti umat yang terdahulu yang mana mereka itu lebih suka banyak bertanya dan hendak melihat bukti-bukti terlebih dahulu sebelum mereka beriman.

Setiap yang dianjurkan oleh Rasulullah S.A.W kepada kita adalah untuk kebaikan kita sendiri. Rasulullah S.A.W menyuruh kita mengamalkan membaca surah Kursi. Kehebatan ayat ini telah diterangkan dalam banyak hadist. Kehebatan ayat Kursi ini adalah untuk kita juga, yakni untuk menangkis gangguan syaitan di samping itu kita diberi pahala.
Begitu juga dengan surah al-Falaq, surah Yasin dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai keistimewaannya. Setiap isi al-Qur’an itu mempunyai kelebihan yang tersendiri. Oleh itu kita umat Islam, janganlah ada sedikit pun keraguan tentang ayat-ayat al-Qur’an, hadist Nabi dan sunnah Baginda S.A.W. Keraguan dan was-was itu datangnya dari syaitan.

Kisah Kota yang Abadi

Diriwayatkan seorang raja berhasil membangunkan kota dengan segala keperluannya yang sangat megah. Kemudian raja itu mengundang rakyatnya untuk berpesta ria menyaksikan kota itu. Pada setiap pintu, penjaga diperintahkan untuk menanyai setiap pengunjung adakah cela dan kekurangan kota yang dibangunnya itu.
Hampir seluruh orang yang ditanyai tidak ada cacat dan celanya. Tetapi ada sebagian pengunjung yang menjawabnya bahwa kota itu terdapat dua cacat celanya. Sesuai dengan perintah raja, mereka ditahan untuk dihadapkan kepada raja.

“Apa lagi cacat dan cela kota ini?” tanya raja.
“Kota itu akan rusak dan pemiliknya akan mati.” Jawab orang itu. Tanya raja, “Apakah ada kota yang tidak akan rusak dan pemiliknya tidak akan mati?”
“Ada. Bangunan yang tidak boleh rusak selamanya dan pemiliknya tidak akan mati.” Jawab mereka.
“Segera katakan apakah itu.” Desak raja.
“Syurga dan Allah pemiliknya,” jawabnya tegas.
Mendengar cerita tentang syurga dan segala keindahannya itu, sang raja menjadi tertarik dan merinduinya. Apa lagi ketika mereka menceritakan tentang keadaan neraka dan azabnya bagi manusia yang sombong dan ingin menandingi Tuhan. Ketika mereka mengajak raja kembali ke jalan Allah, raja itu pun ikhlas mengikutinya. Ditinggalkan segala kemegahan kerajaannya dan jadilah ia hamba yang taat dan beribadah kepada Allah.